Pages

CLOVER LEAF 0

Jrink Hetfield | 16:17 |

CLOVER LEAF
Si Daun Semanggi yang Terlupakan


Nama Godbless maupun Gong 2000 tentunya tak asing lagi bagi kita. Sosok vokalisnya yang berkulit putih dan berambut kribo juga sudah sangat kita kenal. Demikian pula lagu-lagu hits yang pernah ia lantunkan, seperti 'Panggung Sandiwara', 'Kehidupan', 'Rumah Kita', 'Semut Hitam', 'Bis Kota', 'Syair Kehidupan'. Namun, jarang yang tahu bahwa jauh sebelum lagu-lagu tersebut di atas, si kribo bernama Achmad Albar yang akrab dipanggil Iyek ini sudah mencicipi rasanya mencetak hits di Eropa dan menjadi superstar internasional.

TAKE FIVE (1966-1967)
Sekitar 1966 di Markt, Holland, berdiri sebuah band beraliran rythm and blues bernama Take Five. Band ini dibentuk dari hasil kongkow-kongkow Wil Butters (Willy Malakusea) yang juga dikenal dengan panggilan 'de butter', Ruud Wenzel, dan Rob Joling dari band Clover 5. Ketiga orang ini lalu mengajak drumer Adrie Voorheijen (mantan Les Richards) dan gitaris Ruud Koeasi dari band The Rockin' Teens yang berasal dari Breda untuk ikut bergabung. 


kiri-kanan:  Ruud Wenzel (bass) - Adrie Voorheyen (drums) - Achmad Albar (vocal) - Ruud Koeasi (solo gitar) - Rob Joling (gitar)

Tak lama setelah resmi terbentuk, Take Five segera menarik agensi 'Roulette' yang diasuh oleh Jacq van Loon dan Adrie Voeheijen untuk mengurus promosi mereka. Dalam waktu singkat, Take Five pun mendapat tempat manggung di berbagai tempat. Sayang, di saat band ini mulai berkembang, penyanyi utama mereka, Willy 'de butter' Malakusea, mengundurkan diri untuk masuk ke band lain, Windfall. Tapi, kekosongan ini tak berlangsung lama, karena Take Five berhasil mendapatkan seorang penyanyi muda berambut kribo dari Indonesia bernama Achmad Albar


Dengan formasi baru ini, Take Five menjadi semakin solid sehingga dengan mudah mereka berhasil bersaing dengan band-band Belanda lainnya. Tak hanya itu, mereka pun mendapat tempat manggung rutin di Bar Dancing DE AAP di Markt. Selain karena musik mereka yang "nge-beat", Take Five juga banyak terbantu oleh sosok Achmad Albar, yang selain pernah memenangkan Talenten Yacht Grand Gala (semacam kontes bakat untuk anak-anak muda) di TV Holland, ternyata juga pernah menjadi penyanyi tamu untuk band The Tee Set dan mendapat pujian dari penyanyi utama band tersebut, Peter Tettero.


 
Tahun 1967 Take Five membubarkan diri. Rob Joling pindah ke band Fanny Hill, Ruud Koeasi bergabung dengan The Hilltops, sedangkan Achmad Albar dan Adrie Voorheijen kelak mencapai kesuksesan di seluruh negeri dengan band barunya, Clover Leaf.
 
CLOVER LEAF (1968-1972)
 
 

Pada akhir 60-an, terbentuk sebuah band bernama Clover Leaf yang terdiri dari gitaris Eugene den Hoed, basis Jack Verburgt (keduanya mantan personel The Sparks), dan drummer Roy Stubbs (mantan personel 19th Dimension). Awalnya mereka adalah grup trio yang sering membawakan lagu-lagu Jimi Hendrix dan Cream di atas panggung. Tahun 1968, trio ini menggabungkan diri dengan band Reborn dari Rosendaal. Setelah satu bulan lebih, Reborn memutuskan untuk memisahkan diri dan mulai lagi dari awal, namun hanya drummer Roy Stubbs yang ikut bersama mereka. 

Eugene den Hoed dan Jack Verburgt lalu bertemu dengan Achmad Albar dan drummer Adrie Voorheijen dari band asal Rosendaal yang lain, Take Five. Terkesan dengan suara dan penampilan Albar, Eugene dan Jack langsung mengajak mereka bergabung. Keputusan ini tidak salah, karena dalam waktu singkat formasi baru Clover Leaf ini segera membangun citra yang bagus. Apalagi Achmad Albar dengan rambut kribonya yang khas dan vokalnya yang luar biasa, memiliki semua syarat untuk menjadi seorang pop star. Untuk memperkuat musik mereka, manajer Jacq van Loon juga memasukkan pemain organ asal Tilburg, Marcel Lahaye, sementara Jack de Nijs mengurus kontrak Clover Leaf dengan Polydor.

 

Tahun 1969, single pertama mereka 'Time Will Show/Girl Where Are You Going To' dirilis dibawah label Polydor dan mendapat sambutan cukup baik. Melihat sambutan ini, tanpa menunggu lama, Clover Leaf segera merilis single kedua mereka, 'Grey Clouds/Love Really Changed Me'. Secara musikal, single-single awal Clover Leaf ini masih terpengaruh oleh gaya bermusik The Cats, Engelbert Humperdinck, maupun Bee Gees, terutama lagu 'Time Will Show'. Walau begitu, mereka mengambil langkah yang cukup berani, yaitu memasukkan unsur psychedelic dalam lagu 'Girl Where Are You Going To'. Saat mixing akhir, Clover Leaf juga menambahkan instrumen gesek/strings, bunyi-bunyian dari logam, dan sedikit koor untuk memperindah lagu-lagu mereka. Hasilnya terbukti sukses dan mendongkrak nama mereka sebagai band baru yang menjanjikan.


Tahun 1970 mereka merilis top 40 hits yang lain, 'What Kind of Man/Time of Troubles'. Ada sedikit perubahan warna pada single mereka kali ini, terutama pada lagu di sisi B mereka, 'Time of Troubles', yang bercorak rock dan menonjolkan distorsi gitar dari Eugene den Hoed. Walaupun musik mereka bisa digolongkan sebagai pop biasa, namun saat manggung, Clover Leaf biasa bermain sedikit lebih keras. Apalagi dengan tiga single hits di tangan, mereka sering tampil di berbagai panggung dan bisa disetarakan dengan band-band Belanda lain asuhan Jack de Nijs. Pada tahun-tahun itu, banyak band bagus yang berasal dari Belanda selatan yang sering tampil dalam Mr Albert Show, Dari Mr Albert Show inilah, nama Clover Leaf mulai menjadi perhatian. Namun, saat itu Achmad Albar masih belum menyadari bahwa jarak mereka menuju puncak ketenaran hanya tinggal sejengkal lagi... 

'Don't Spoil My Day'

Masih di tahun 1970, Clover Leaf merilis single 'Don't Spoil My Day/Sweeter Better'. Tak disangka, lagu ini meroket ke top ten dan berhasil melambungkan nama Clover Leaf di Eropa. Hasilnya, perusahaan rekaman Decca (label yang juga merilis rekaman The Rolling Stones) merilis single ini di Inggris (Decca F 23101). 

'Don't Spoil My Day' pun menjadi karya terbesar Clover Leaf yang membawa band ini ke puncak kariernya. Lagu ini memang memiliki seluruh syarat untuk menjadi sebuah hit besar: aransemen yang matang, ditambah bunyi-bunyian dari brass section yang meriah, dan dinyanyikan dengan sangat indah oleh Achmad Albar. Sementara di sisi B, 'Sweeter Better' yang bercorak rock and roll kembali menunjukkan sisi keras Clover Leaf setelah 'Time of Troubles' dari single sebelumnya. Sukses single 'Don't Spoil My Day' membuat Clover Leaf melakukan tur ke beberapa negara tetangga: Belgia, Luxemburg, Jerman Barat (waktu itu), Austria, dan lain-lain. 

SINGLES

Time Will Show / Girl Where Are You Going (Polydor, 1969)


Grey Clouds / Love Really Changed Me (Polydor, 1969)

What Kind Of Man / Time Of Troubles (Polydor, 1970)


Don't Spoil My Day / Sweeter Better (Polydor, 1970 - UK: Decca, 1970)


Oh What A Day / Such A Good Place (Polydor, 1971)


Tell The World / Come Home (Imperial, 1971)



Makin' Believe / Mister Lonesome (Imperial, 1972)
Mister Lonesome / We Love Each Other (= Makin' Believe) (Imperial, 1972)
Woman / If You Meet Her (Imperial, 1973)

* Sumber: [wizard12220-MP]


DOWNLOAD

KELOMPOK KAMPUNGAN 0

Jrink Hetfield | 01:45 |

Pada zamannya, Bram Makahekum, dan teman-temannya dalam Kelompok Kampungan, diam-diam menjadi “pahlawan” beberapa anak muda dan mahasiswa. Kelompok Kampungan, yang dibentuk oleh Bram dan teman-temannya yang sebagian besar adalah awak Bengkel Teater Rendra pada tahun 1975, di tengah kesumpekan suasana pada masa itu, dengan lantang menyerukan gugatannya.

Hanya dengan satu album yang terdiri dari lagu-lagu seperti Bung Karno, Mereka Mencari Tuhan, Ratna, Berkata Indonesia dari Yogyakarta, Drama, Kalau, dan Wanita (sebagian besar ditulis Bram Makahekum, sebagian lagi ada kesertaan Rendra, Jabo, Haryono, dan Joko), Kelompok Kampungan menjadi kelompok yang terus dikenang. Kenangan atas Kelompok Kampungan identik dengan kenangan atas masa tahun 1970-an, termasuk “romantisme” kehidupan anak-anak muda di Yogyakarta kala itu –sebuah kota yang menyimpan √©lan vital perjuangan. Rendra menggambarkan ulah Bram dan kawan-kawannya sebagai ulah “daya hidup dari manusia yang menolak ditundukkan”.

Dalam liner notesnya,mereka menulis prakata :
Pernah disuatu pagi disebuah kampung dekat pantai Selatan, ombak menderu-deru dan menghentak-hentak bagai suara gendang ditabuh, deru angin menggesek pepohonan bagai gesekan biola berduet dengan cello, suara serangga dari bebukitan seperti bunyi alat-alat kecil perkusi terbuat dari besi dan kayu, suara ayam-ayam jantan berkokok bersahut-sahutan seperti suara bass yang sesekali muncul, burung-burung berkicau di udara seperti melodi yang bersahut-sahutan, semuanya menjadi satu keseluruhan, begitu harmoni terdengar ditelinga.

Suasana ini begitu kuat mencekam indera pendengaran sehingga seakan-akan indera lainnya seperti tak ada. Dalam keadaan asyik mendengar ini tiba-tiba terlintas dalam benak suatu kesadaran bahwa semua bentuk musik itu berasal dari bunyi, jadi dengan alat apapun asal bisa menimbulkan bunyi dapat menjadi musik, tergantung dari selera, ingin memakai alat-alat yang berasal dari jenis besi, kulit, logam, kayu, yang ditiup atau ditabuh, atau digenjreng dst....

Track list:

Side A
1 Bung Karno Bram Makahekum Kelompok Kampungan
2 Ratna Bram Makahekum Kelompok Kampungan
3 Mereka Mencari Tuhan Bram Makahekum Kelompok Kampungan
4 Catatan Perjalanan Joko / Haryono / Bram M / Dodo Kelompok Kampungan




Side B
1 Hidup Ini Seperti Drama Bram Makahekum Kelompok Kampungan
2 Berkata Indonesia Dari Yogyakarta Jabo / Bram Makahekum Kelompok Kampungan
3 Wanita Bram Makahekum Kelompok Kampungan
4 Terlepas Dari Frustasi Bram Makahekum Kelompok Kampungan
5 Aku Mendengar Suara Bram Makahekum / Rendra

Download:


The Gembells 0

Jrink Hetfield | 19:08 |

Di Indonesia pengaruh musik latin-rock Santana terlihat jelas pada grup pop-rock era 1970-an, yaitu The Gembells. Nama The Gembells merupakan singkatan dari ”Gemar Belajar” lantaran para anggotanya (Victor Nasution, Anas Zaman, Rudy Anant, Abu Bakar, Djodjok, dan Minto) saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.  Jika Santana sering disebut sebagai pengusung aliran Afro-Latin, maka The Gembells pernah memproklamasikan diri sebagai pembawa aliran ”Afro-Asia”. Sepanjang karier mereka, The Gembells setidaknya pernah menghasilkan tujuh album yang direkam PT Musica Studios Jakarta, yaitu Pahlawan yang Dilupakan, Balada Kalimas, Hey Dokter, Surapati Wiranegara, Si Munafik, Singosari!, dan Balada Seorang Pahlawan. Mereka juga merilis dua album kompilasi, yaitu 12 Tahun The Gembells (1969-1981) dan Gembells 83.


Pengaruh lagu-lagu Santana (khususnya Evil Ways, Black Magic Woman, dan Oye Como Va) terlihat jelas pada lagu-lagu Bergembira, Adik yang Lucu, Pagi yang Cerah, dan Kepesta yang terdapat di album The Gembells pertama hingga keempat. ”Kami mengakui adanya inspirasi dari musik Santana, namun bukan berarti kami menjiplak,” katanya.

Download:


 
mp3 collection Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS